The Great Smog 1952: Kabut Maut yang Mengepung London

Jum’at, 28 Maret 2025 16:50 WIB

Yogi Pratama – Kreatif

Source: Business Insider

Awal Desember 1952, London diselimuti kabut tebal yang lebih pekat dari biasanya. Warga kota yang terbiasa dengan cuaca berkabut tidak menyadari bahwa kali ini, kabut tersebut membawa maut. Selama lima hari, asap beracun menyelimuti kota, menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan mengubah cara dunia memandang polusi udara. Peristiwa ini dikenal sebagai The Great Smog of London 1952, salah satu bencana lingkungan paling mematikan dalam sejarah modern.

Awal Mula: Kabut atau Bencana?

Kejadian ini bermula pada 5 Desember 1952, ketika udara dingin yang tidak biasa melanda London. Untuk menghangatkan diri, warga menyalakan lebih banyak batu bara, sumber utama energi pada saat itu. Asap dari rumah-rumah, pabrik, dan kendaraan bermotor bercampur dengan udara dingin yang terjebak di permukaan tanah akibat fenomena meteorologi yang disebut inversi suhu.

Biasanya, udara hangat di permukaan akan naik dan membawa polutan menjauh. Namun, kali ini lapisan udara dingin di bawah tidak bisa bergerak ke atas karena terperangkap oleh lapisan udara hangat di atasnya. Akibatnya, asap dan partikel beracun tetap berada di permukaan, membentuk kabut hitam pekat yang menyelimuti kota.

London yang Tercekik

Dalam hitungan jam, kota berubah menjadi pemandangan apokaliptik. Jarak pandang turun drastis hingga hanya beberapa langkah di depan, membuat kendaraan dan transportasi umum berhenti total. Para pejalan kaki tersandung di trotoar, dan banyak yang terjatuh ke dalam sungai atau tabrakan karena tidak bisa melihat jalan.

Namun, dampak yang lebih mengerikan muncul dari udara yang dihirup warga London. Kabut ini mengandung sulfur dioksida (SO₂) yang bereaksi dengan air di udara, membentuk asam sulfat, yang sangat beracun bagi manusia. Rumah sakit dipenuhi pasien yang mengalami gangguan pernapasan akut, batuk darah, dan sesak napas.

Bahkan hewan pun tidak luput dari dampaknya. Dikatakan bahwa sapi-sapi di pertanian sekitar London mati akibat keracunan asap. Di bioskop, pertunjukan dibatalkan bukan karena kurangnya penonton, tetapi karena layar tidak bisa terlihat akibat kabut yang merembes ke dalam gedung.

Korban dan Dampak Jangka Panjang

Kabut pekat ini bertahan selama lima hari, sebelum akhirnya menghilang pada 9 Desember 1952 saat angin kencang bertiup dan membersihkan udara. Namun, dampaknya tidak hilang begitu saja. Diperkirakan 4.000 orang meninggal dalam beberapa hari pertama, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru. Angka ini kemudian meningkat hingga 12.000 kematian dalam beberapa minggu ke depan, dengan puluhan ribu lainnya mengalami gangguan kesehatan serius.

Peristiwa ini mengubah kebijakan lingkungan di Inggris dan dunia. Pemerintah Inggris akhirnya menyadari betapa berbahayanya polusi udara dan menerapkan Clean Air Act 1956, yang membatasi penggunaan bahan bakar berbasis batubara di daerah perkotaan. Peraturan ini menjadi titik awal kesadaran global tentang pentingnya pengendalian polusi udara.

Konten Terkait