Senin, 27 April 2026 17.00 WIB
Ayu Kartikaningtyas – Kreatif
Source: UNAS TV
JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga melanjutkan pembangunan jalan penghubung antara Jalan Rawajati Timur dan kawasan Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang belum rampung sejak 2014 lalu.
Dari Informasi yang didapat, hal ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan di wilayah tersebut. Saat ini, pihak terkait masih menyelesaikan proses pembebasan lahan. Sejumlah rumah di lokasi proyek kini dibiarkan kosong oleh warga yang meninggalkan rumah setelah proses pembebasan lahan berjalan. Kondisi tersebut membuat kawasan di sekitar terlihat sepi dan terbengkalai. Beberapa warga telah meninggalkan tempat, meski sebagian masih menunggu kejelasan terkait ganti rugi yang dijanjikan. Sejumlah warga mengaku belum menerima kompensasi secara penuh, kondisi ini membuat mereka harus menghadapi ketidakpastian, ditengah kebutuhan untuk melanjutkan kehidupan ditempat baru.
“Kalau sudah cair mah sudah ada setengah warga yang dapat dari kompensasi yang sudah dijanjikan, tapi kalau saya menggugat, saya tidak mau dengan harga segitu. Harga 8 juta tanah per meter itu saya tidak mau, saya mintanya 12 juta ini tanah saya” Ujar Fitrianto, salah satu warga di daerah Pasar Minggu, Senin (27/4).
Meskipun, pembangunan jalan tembus tetap berlanjut. Namun, prosesnya dinilai belum seimbang dengan penyelesaian masalah warga terdampak. Kondisi ini berdampak pada kehidupan warga, mulai dari kehilangan tempat tinggal, penurunan pendapatan, hingga kesulitan beradaptasi di lingkungan baru. Warga berharap ada kejelasan dari pemerintah, terutama mengenai ganti rugi.
“Harusnya harga tanahnya itu diatas pasaran, kalau ini hanya 8 juta dibawah pasaran, harga tanah disini itu per meter 10 juta. Seharusnya diberi kompensasi 12 juta baru saya mau, baru boleh digusur. Kalau saya tidak mau, kalau yang sebagian sudah pada mau, karena sebagian itu pada ketakutan mbak. Mereka sama pemerintah pada ketakutan, kalau saya ngelawan, saya gugat di pengadilan. Harganya itu saya lawan, saya sudah gugat pemerintah ke pengadilan tapi belum dipanggil aja” Ujar Fitrianto (27/4).
Hingga saat ini, pemerintah menargetkan pembangunan jalan dapat segera dilanjutkan, proyek ini diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Warga berharap, harga tanah tersebut diatas harga pasaran mengingat harga tanah di daerah tersebut mencapai 10 juta per meter.